Blog Details

Penerapan SNI Pada Mainan Impor

SNI atau Standar Nasional Indonesia adalah standar yang berlaku secara nasional di Indonesia, yang disusun dan dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh BSN. Tanpa adanya SNI, beberapa produk yang di sebutkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.72/M-DAG/PER/9/2015, tidak di izinkan untuk di edarkan di pasaran dalam negeri. Hal ini untuk memperlancar perdagangan, serta mewujudkan persaingan usaha yang sehat.

Standarisasi di Indonesia sendiri dimulai sejak tahun 1928, yang saat itu di bentuk lembaga untuk penyusunan standar bahan bangunan, alat transportasi, standar instalasi listrik dan persyaratan jaringan distribusi listrik. Lalu, pada tahun 1997, di bentuk BSN atau Badan Standardisasi Nasional untuk memperkuat fungsi koordinasi kegiatan standarisasi di Indonesia.

Semakin berkembangnya zaman, standarisasi ini merambah ke berbagai jenis, salah satunya ke mainan anak impor. Karena mainan sekarang menjadi salah satu pendorong tumbuh kembang anak, maka dalam mainan impor ini harus ada label standar SNI sebelum bisa masuk ke Indonesia agar terjamin kualitas dan keamanannya. Meskipun telah memiliki label ISO, label SNI sangat penting sebagai standar nasional yang di canangkan pemerintah.

Tapi kan mainannya sudah standar ISO? Sudah punya standar internasional apa masih perlu mendapat label SNI? ISO sendiri singkatan dari Internasional Organization for Standardization yang merupakan organisasi internasional untuk perumusan dan penerbitan standar internasional. ISO ini beranggotakan hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia. Walaupun sudah mempunyai label ISO, produk impor yang masuk ke Indonesia harus mempunyai label SNI sebagai label nasional untuk tujuan keselamatan konsumen serta pasar dalam negeri.

Label SNI sendiri berfungsi untuk memberi jaminan kualitas dan kelayakan bahwa barang tersebut sudah lulus uji dan sesuai standar dari pemerintah, serta memberi jaminan keamanan bagi konsumen yang membeli dan menggunakan barang tersebut, serta berguna menjaga persaingan industri di dalam negeri.

Label SNI dalam mainan juga digunakan untuk membedakan apakah mainan tersebut untuk di perjualbelikan atau untuk kepentingan pribadi. Aturan jumlah maksimum mainan yang di kirim dengan jasa pengiriman tidak terkena SNI adalah 3 buah dengan batasan waktu 30 hari. Jika dalam kurun waktu 30 hari konsumen mendapat kiriman lagi, maka kiriman mainan tersebut wajib terkena SNI walaupun jumlahnya di bawah 3, karena masih di hitung dengan barang terdahulu.

Mainan impor yang wajib memiliki label SNI ini untuk pengguna usia 14 tahun ke bawah guna menghindari anak-anak dari bahaya tersedak bahkan tertelan. Karena, beberapa mainan memiliki ukuran yang kecil sehingga besar kemungkinan anak-anak di bawah umur tersebut tidak sengaja memasukkannya ke mulut yang bisa menyebabkan tertelannya mainan tersebut. Bukannya membantu perkembangan anak, malah menjadi monster bagi anak karena tidak layaknya mainan tersebut.

” Untuk mainan impor, memang ada ketentuan wajib SNI ( Standar Nasional Indonesia ) yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian,” kata Kasubdit Komunikasi dan Publikasi DJBC Deni Surjantoro.

Dalam penerapan label SNI di mainan impor, memang memerlukan banyak biaya sehingga banyak pembeli yang malas mengurusnya. Apalagi, jika harga mainan tidak sebanding dengan biaya tersebut. Tapi, jika di kaitkan dengan keselamatan diri serta penjualan di dalam negeri, perihal biaya menjadi ringan karena banyak keuntungan yang bisa di dapat.

Dengan adanya aturan ini, maka siapapun yang membeli mainan dari luar negeri harus mempunyai label SNI jika ingin mainannya bisa masuk ke dalam negeri dan tidak melakukan pengembalian barang. Jika dalam waktu yang sudah di tentukan pembeli masih belum bisa mendapat label SNI, maka barang tersebut menjadi tidak di kuasai dan di ambil alih oleh negara, sehingga dapat di musnahkan.

Selain melindungi konsumen, label SNI menjadikan produk impor tidak seenaknya masuk ke pasar Indonesia yang bisa menghancurkan pasar dalam negeri. Ini juga mencegah mainan-mainan berkualitas buruk bisa di cegah masuk sehingga tidak ada pihak yang di rugikan. Konsumen mendapat barang yang berkualitas, produsen mendapat profit karena di percaya dengan bukti hasil produksi yang memuaskan.

Cara untuk memperoleh label SNI cukup mudah. Anda bisa langsung daftar ke website kementerian perindustrian di kemenperin.go.id. Beberapa dokumen yang perlu di persiapkan, yaitu:

  1. Surat permohonan kepada Direktur Industri Tekstil Kulit Alas Kaki dan Aneka Direktorat Industri Kimia Tekstil
  2. Surat data pemohon
  3. Copy SIUP/IUI, TDP, NIK, NPIK, API ( karena merupakan ruang lingkup mainan anak )
  4. Copy Nomor Pokok Wajib Pakai ( NPWP )
  5. Daftar produk
  6. Dalam rangka impor produk
  7. Surat kuasa pengurusan pertimbangan teknis SNI mainan secara wajib, disertai materai senilai Rp. 6000

Untuk lama waktu pengurusan label SNI ini cukup sebentar, hanya memerlukan waktu 5 hari. Jadi, jika Anda suatu hari membeli mainan impor tanpa label SNI, Anda dapat segera membuatnya tanpa takut mainan Anda di musnahkan oleh negara.

Resiko mainan anak impor yang tidak memiliki label standar SNI antara lain bahaya pendengaran, terjepit, tersetrum, tersedak, hingga masuknya bahan kimia ke dalam tubuh. Namun, jika suatu mainan impor berlogo SNI terlihat meragukan, konsumen bisa menuntut pertanggungjawaban kepada produsen mainan tersebut. Karena konsumen di lindungi oleh Undang – Undang Perlindungan Konsumen guna memastikan kualitas dan keamanan produk tersebut.

Dengan demikian, penerapan label Standar Nasional Indonesia ( SNI ) pada semua produk, salah satunya mainan anak impor sangat penting. Karena, banyak bahaya yang di timbulkan dari produk yang tidak lulus uji keamanan dan kelayakan. Maka, sebelum membeli mainan tersebut, pastikan sudah tertera atau belum label SNI tersebut. Jika belum, Anda harus menyiapkan beberapa persyaratan dokumen yang telah di sebutkan di atas untuk mempermudah dan mempercepat jalannya proses pembuatan label SNI untuk mainan anak Anda.

Open chat